SARWONO PRAWIROHARDJO, TOKOH YANG MEMBIDANI KELAHIRAN LIPI

SARWONO PRAWIROHARDJO, TOKOH YANG MEMBIDANI KELAHIRAN LIPI

SARWONO PRAWIROHARDJO, TOKOH YANG MEMBIDANI KELAHIRAN LIPI

Prof. Dr. Sarwono Prawirohardjo merupakan salah satu ilmuwan Indonesia terkemuka yang berperan besar dalam pembangunan kelembagaan ilmu pengetahuan di Indonesia seperti seperti Ikatan Bidan Indonesia, Ikatan Dokter Indonesia, Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia hingga Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Kiprahnya dalam meletakkan landasan serta membangun intitusi keilmuwan inilah yang mendorong LIPI menerbitkan buku biografi Sarwono Prawirohardjo.

Sarwono lahir dari keluarga terpelajar di Surakarta, 13 Maret 1906. Ayahnya, Prawirohardjo merupakan seorang guru sekolah, hingga pendidikan sangat ditekankan dalam keluarga. Setelah menamatkan Europeesch Lager School (ELS) pada 1919, Sarwono melanjutkan pendidikan di sekolah dokter STOVIA.

Selama menjadi siswa STOVIA inilah, Sarwono mulai tertarik untuk berorganisasi. Sebagai pelajar Jawa, ia menjadi anggota dan bahkan pernah menjadi ketua perkumpulan Jong Java pada 1927.

Pada 1929, ketika lulus dari STOVIA sebagai Indische Arts, Sarwono bekerja sebagai dokter di beberapa Rumah Sakit. Setelah menjadi Direktur Rumah Sakit Bersalin Pamitran, pada 1937 ia menambah pengetahuannya di Geneeskundige Hooge School (GH), sebuah sekolah tinggi kedokteran di Jakarta. Sarwono juga mengambil spesialisasi bagian kebidanan dan kandungan di bawah bimbingan Prof. Dr. Remmelts. Pendidikan inilah yang mengantarkan Sarwono sebagai pionir ilmu kebidanan di Indonesia.

Selepas penjajahan Jepang, pada 19-20 Agustus 1945, Sarwono bersama Sutomo Tjokronegoro, Sudiman Kartodihardjo dan Slamet Imam Santoso mendirikan Balai Perguruan Tinggi RI. Sesudah pengakuan kedaulatan pada 1950, balai ini dilebur bersama Universiteit van Indonesia, dimana Sarwono mengajar sebagai guru besar ilmu kebidanan FKUI.

Selain mendalami masalah ilmu kebidanan, Sarwono juga berkiprah dalam pendirian Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI), dan Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI). Aktivitasnya memasyarakatkan program Keluarga Berencana (KB), pernah ditentang oleh Presiden Soekarno yang beranggapan, "banyak anak banyak rejeki."

Kepergian para peneliti Belanda pada tahun 1950, membuat penelitian keilmuwan di Indonesia mengalami pasang surut. Karena itu pada 1952, Sarwono ditunjuk menjadi Ketua Panitia Persiapan Pembentukan Majelis Ilmu Pengetahuan Indonesia. Situasi tanah air waktu itu membuat panitia harus bekerja selama 4 tahun hingga berdirinya MIPI pada 1956 dengan Sarwono sebagai ketuanya. Dalam awal perjalanannya, MIPI berhasil menyelenggarakan Kongres Ilmu Pengetahuan pertama di Malang tahun 1958 dan kedua di Yogyakarta tahun 1962.

Dalam perkembangannya, MIPI mengalami beberapa perubahan diantaranya karena pembentukan Departemen Urusan Reseach Nasional (Durenas) pada 1962 yang dipimpin oleh Djoenoed Poesponegoro. Ketika itu Sarwono diangkat menjadi Pembantu Menteri Urusan Kebijakan. Ketika Durenas ditiadakan pasca G30S 1965, kebijakan iptek dikoordinasikan oleh Lembaga Reseach Nasional (LRN) dan MIPI yang kemudian lebur menjadi LIPI dengan Sarwono sebagai ketuanya.

Menurut tokoh ilmuwan J.A. Katili, Sarwono bukanlah ilmuwan kebanyakan. Sekalipun berprofesi sebagai dokter, Sarwono mampu mengembangkan berbagai cabang ilmu pengetahuan sekaligus memimpin berbagai ilmuwan di bawah satu atap. “Seperti pohon rindang, berawal dari akar kemudian tumbuh bercabang rindang meneduhkan,” imbuhnya.

Sarwono juga terkenal sebagai orang yang jujur dan tidak pernah memanfaatkan jabatannya. Pernah seorang tukang cat yang ditugasi LIPI mengecat rumah Sarwono, harus kembali sebelum tugasnya selesai. “Ini rumah saya, bukan rumah LIPI. Sekarang kalian pulang saja!” ujar Sarwono. Sikap seperti ini tentu bisa menjadi contoh bagi para pejabat publik.

Memang banyak keteladanan yang bisa kita ambil dari perjalanan hidup Sarwono Prawirohardjo. Kepeduliannya terhadap perkembangan ilmu pengetahuan di Indonesia harus bisa menginspirasi berbagai pihak, karena iptek dapat dimanfaatkan untuk mengatasi berbagai krisis dan solusi meningkatkan kemandirian bangsa. (sb)

Penerbit LIPI (http://www.penerbit.lipi.go.id)

lppm

Leave a Reply

Close
Bahasa