RUSNAS Industri Kelapa Sawit di Periode 2009

RUSNAS Industri Kelapa Sawit di Periode 2009

RUSNAS Industri Kelapa Sawit di Periode 2009

Peningkatan daya saing Indonesia dalam perkelapasawitan dunia melalui pengembangan industri hulu-hilir, adalah tujuan Rusnas Sawit sebagai  Policy instrument dari pemerintah untuk mengatasi masalah perkelapa sawitan Indonesia yang diawali pada tahun  2002 sampai  2006 dengan sebutan Rusnas Industri Hilir Kelapa Sawit dan dilanjutkan di tahun  2007 sampai 2009 menjadi Rusnas Industri Kelapa Sawit dengan masuknya industri hulu kedalam skema Rusnas ini.

Rusnas  Pengembangan Industri  Kelapa Sawit yang dikelola oleh Lembaga Penelitian IPB bekerjasama dengan Masyarakat Perkelapasawitan Indonesia (MAKSI), tahun 2009  sampai pada penghujung periodenya. Sebagai ajang monitoring dan evaluasi terhadap kegiatan yang telah dilakukan kurun waktu  tahun 2009, digelar “Paparan Hasil Rusnas Sawit 2009”,  di Bogor pada 25 November 2009 yang dibuka oleh  Anny Sulaswatty selaku  Ketua Supervisor Rusnas Industri Kelapa Sawit mewakili Kementerian Negara Riset dan Teknologi .

“Kegiatan Rusnas Sawit 2009  terbagi kedalam: 1). Kegiatan Manajemen Pengelolaan mencakup : Komunikasi, Informasi dan Edukasi Sawit; 2). Produk dan penelitian hilir secara garis besar dikelompokkan dalam Tribologi, Surfaktan Emulsifier, Nutraceutical dan Oleofood. 3) Penelitian hulu mencakup Kajian Koleksi Sumber Daya Genetik, Protokol Kultur Jaringan dan Perakitan Kelapa Sawit Transgenik Tahan Ganoderma,” Lapor Dede Adawiyah selaku ketua Pengelola Rusnas Sawit  2009.

Rusnas Sawit yang di kelola oleh IPB, di thn 2009 ini di ketuai oleh Dede Adawiyah (TPG-IPB ), dengan Pengarah Benyamin Lakitan Sesmenneg Ristek, sedangkan Supervisornya  terdiri dari  Anny Sulaswaty (KNRT),  Z. Poeloengan (PT MAKIN), Indra Budi Susetyo (BPPT) dan  Machmud Thohari (PPSHB-IPB) serta reviewernya  adalah Tien R Muchtadi (IPB),  Purboyo Guritno (PT MAKIN), Sugiono Muljoprawiro (BP Biogen, Deptan) dan  Diah Ratnadewi (IPB).

Program RUSNAS dikembangkan dengan pertimbangan  banyaknya sektor industri yang strategis kurang dapat berkembang karena lemahnya penguasaan berbagai bidang teknologi yang terkait; di pihak lain bidang bidang teknologi yang terkait dengan sektor produksi yang strategis juga mengalami kemajuan  yang semakin cepat, sehingga tanpa usaha yang ekstensif dan berjangka panjang untuk menguasai kemajuan teknologi-teknologi tersebut, perkembangan sektor produksi akan semakin tertinggal. Oleh karena itu diperlukan secara komprehensif memetakan technology roadmap terkait dengan perkembangan suatu sektor produksi yang strategis, menumbuhkan penguasaannya serta mendorong pemanfaatannya secara nyata ke dalam kegiatan produksi.

Selanjutnya, Program Rusnas, dikembangkan oleh Kementerian Negara Riset dan Teknologi untuk menfasilitasi usaha tersebut. Walaupun program Rusnas mengandung suatu kegiatan penelitian dan pengembangan, tetapi program ini sangat terkait dengan penguatan mata rantai dukungan teknologi (Technology supply Chain). Dipihak lain, program ini berorientasi pada kegiatan produksi yang spesifik. Dengan demikian, teknologi akan dikuasai dan dikembangkan serta dipetakan dalam technology roadmap dan memiliki hubungan yang kuat dengan teknologi produk dan proses yang berkaitan dengansektor produksi yang dituju.

Dalam paparannya, Rasidin  Azwar – Departemen Pertanian, menyampaikan Rekomendasi  Kajian Koleksi Sumber Daya Genetik Kelapa Sawit di Indonesia  dalam bentuk dan rancang tindak tentang pembangunan KKN-SDG kelapa sawit; Blue-print rancangan pembangunan dan konsep pengelolaan KKN-SDS-KS serta Tata cara menghimpun dan mengelola SDG kelapa sawit dalam KKN-SDG-KS termasuk MTA.

Sedangkan tentang Protokol Kultur Jaringan Kelapa Sawit  mencakup: Faktor Komponen Media pada Embriogenesis Somatik Invitro Kelapa Sawit untuk Perbanyakan Klonal  disampaikan oleh Yusnita – Universitas Lampung,  dan Upaya Penekanan Abnormalitas Hasil Kultur Jaringan Kelapa Sawit Melalui Manipulasi Formulasi Media dan Kondisi Kultur  oleh Ika Mariska – BB Biogen  dengan output Protokol produksi bibit kelapa sawit dengan tingkat abnormalitas rendah sampai tahap pematangan embrio somatik.

“Dalam hal Perakitan Kelapa Sawit Transgenik Tahan Ganoderma,  telah diperoleh DNA rekombinan P35S-STS/KTN/ GLN-GFP5 ; DNA rekombinan Psa-STS/KTN/ GLN-GFP5; Teknik transformasi genetik kelapa sawit; Regenerasi (pertumbuhan) eksplan/sel sawit   transgenik;  serta Konstruk yang ditransformasikan pada kalus sawit “. Ujar  Tetty Chaidamsari  Biotekbun.

Di lain pihak, Teknologi proses dan prototipe produk MDAG, Katalog produk MDAG sawit dan Mitra pengguna teknologi Proses  Produksi Emulsifier Mono Dan Diasilgliserol telah berhasil dicapai oleh Nuri Andarwulan,  SEAFAST Center-IPB.


Hal yang serupa  disampaikan oleh Nur Wulandari, SEAFAST Center-Dept ITP IPB tentang  Persiapan Komersialisasi Produk-produk Pemanfaatan Karoten Minyak Sawit ; Konseptual desain untuk skala kontinyu; Informasi karakter produk dan potensi aplikasi sebagai food ingredient serta calon Mitra.


Begitu pula dengan kegiatan Proses Produksi CBE (Cocoa Butter Equivalent) Berbasis Sawit Secara Enzimatis, “Telah diperoleh  Teknologi proses fraksinasi CBE,  Katalog produk, Prototipe dan karakter produk serta Mitra pengguna”, ujar Soenar Soekopitojo, Univ Negeri Malang.


“Publikasi hasil Kegiatan Rusnas Sawit Tahun 2009 ini,  dilakukan dalam berbagai cara, seperti seminar nasional, regional,  terbit dalam media cetak maupun  elektronik, dan dalam kurun 2009  telah  diperoleh : 4 Makalah Internasional, 2 makalah Regional dan 4 makalah Nasional", ungkap Dede Adawiyah.

Evaluasi Rusnas Sawit ditutup oleh Tien R.Muchtadi selaku Ketua MAKSI dengan mengingatkan kembali bahwa  Kedepan, “Kementerian Negara Riset dan Teknologi (KNRT) telah mengembangkan skema insentif yang lain untuk penelitian, dimana skema ini menggantikan RUSNAS yang telah dikembangkan sejak tahun 2002. Skema insentif ini merupakan penataan ulang dari RUSNAS dimana dana yang disalurkan akan diatur supaya mampu membiayai dan menghasilkan produk penelitian yang lebih banyak”,  ungkap Deputi Bidang Pengembangan Sistem Iptek Nasional, Amin Soebandrio yang mewakili Menteri Negara Riset dan Teknologi dalam Keynote Speechnya di Seminar Tahunan Maksi 2009 (24/11). 

Sumber maksi/humasristek

lppm

Leave a Reply

Close
Bahasa