Eksplorasi Preferensi Masyarakat Terhadap Pemanfaatan Ayam Lokal di Kabupaten Bogor Jawa Barat

ABSTRAK

Ayam lokal Indonesia dapat berupa ayam asli (indigenous) dan ayam lokal yang didatangkan dari negara lain
yang telah beradaptasi dan berkembang biak di Indonesia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi preferensi masyarakat terhadap pemilihan dan pemanfaatan ayam lokal serta mengumpulkan informasi mengenai berbagai tipe ayam yang memiliki manfaat khusus pada kondisi pemeliharaan tradisional di wilayah Kabupaten Bogor. Berdasarkan hasil survei terhadap 120 responden dari 15 desa di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, diperoleh tujuh jenis ayam lokal yang umum dipelihara oleh masyarakat, yaitu ayam kampung, bangkok, arab, kate, pelung, gaga’ , dan bir ma. Preferensi masyarakat terhadap pemanfaatan ayam lokal terbagi ke dalam empat kategori besar, yaitu religi, pangan, ornamental, dan niaga. Enam dari tujuh jenis ayam (86%) tersebut dipelihara untuk keperluan niaga. Kategori ornamental tersebar pada lima jenis ayam (71%), produksi daging terbagi ke dalam empat jenis ayam (57%), dan tiga jenis ayam (43%) tercatat memiliki manfaat sebagai penghasil telur. Kategori religi memperoleh nilai ICF tertinggi (1,00) diikuti kategori pangan sebagai penghasil daging dan telur (ICF:0,98). Ayam arab menempati nilai Fidelity Level (FL) tertinggi (70,96%) karena memiliki manfaat spesifik sebagai penghasil telur dan daging. Produksi telur ayam arab mencapai 22,50 butir/periode dan merupakan produktivitas tertinggi dibanding jenis ayam lain, akan tetapi ayam arab masih belum populer dipelihara masyarakat. Rataan ayam lokal yang dimiliki peternak adalah 11,31 ekor dengan kisaran 2 25 ekor/peternak. Sebanyak 79,16% responden memelihara ayam kampung, bangkok (40,00%), kate (13,33%), gaga’ (10, 00 %), arab (8,33%), pelung (5,83%), dan birma (3,33%). Ayam kampung sebagai sumber pangan dan banyak digunakan untuk tujuan keagamaan memiliki nilai FL sebesar 38,23%.

Kata kunci: ayam lokal, budaya, pemanfaatan, preferensi

ABSTRACT

Indonesian native chickens consist of indigenous chickens and a chickens originated from abroad which adapted and grow in Indonesia. Based on 120 respondents who have been interviewed, there were seven types chicken commonly raised, namely: kam po ng, ban gkok, ar ab, kate, pel un g, gaga’ , an d b ir ma. People c ommo nly raised native chickens for religion, food, ornamental, and trading purposes. Six of those seven native chickens (86%) are reared for trading, five types (71%) for ornamental, and four types (57%) for egg and meat production purpose. Three types chicken (43%) were well-known had the benefits for eggs production. The religious category was the highest ICF value (1.00) followed by food (meat and eggs production) category with ICF value by 0.98. Arab chicken had the highest Fidelity Level (FL) value (70.96%) as egg and meat producer. Egg production of arab chicken reached 22.50 egg/period and it was the highest productivity of all experimental chickens. Average flock size per household was 11.31 with a population around 2 25 chickens/household. Kampong chicken was the most popular to be raised (79.16%) followed by bangkok (40.00%), kate (13.33%), gaga’ (10 .00%), arab (8.33%), pelung (5.83%), and birma (3.33%). Kampong chicken is a food source and highly used for religion purpose had 38.23% of FL value.

Keywords: culture, native chicken, preference, uses

Download : PDF

Share...Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someone

Close