Menyoal Keamanan Pangan

Menyoal Keamanan Pangan

Menyoal Keamanan Pangan

 
 
 
Menyoal Keamanan Pangan
REUTERS/MIKE STONE/ip
 
 

SERAYA menyelipkan telapak tangannya di saku celana, Mike Geske menunduk termangu menatap ladang jagungnya. Lahan seluas 850 hektare itu penuh retakan layaknya kepingan puzzle. Tongkol-tongkol jagung yang mulai dipanen pada pertengahan bulan ini pun tidak mampu menyunggingkan senyum petani asal Desa Matthews, Negara Bagian Missouri, Amerika Serikat itu. Sebagian besar tongkol rusak dan berukuran jauh lebih kecil daripada hasil panen-panen sebelumnya.

Nasib serupa dialami ribuan petani 'Negeri Paman Sam' lainnya. Menurut Departemen Pertanian AS (USDA), hanya 31% panen jagung di seantero AS yang bisa dikategorikan dalam kondisi baik. Jumlah panen juga merosot, dari 166 bushel (1 bushel setara dengan 35,2 liter) setiap 4.046 meter persegi pada musim semi lalu menjadi 146 bushel setiap 4.046 meter persegi pada musim panas ini.

Biang keladinya, berdasarkan laporan Pusat Data Cuaca Nasional (NCDC), ialah bencana kekeringan yang melanda lebih dari 55% wilayah AS tahun ini. Kondisi itu turut mendongkrak harga jagung di Bursa Komoditas Chicago hingga mencapai US$8,30 per bushel. Harga kedelai pun turut melonjak hingga US$17,49.

Sejumlah pengamat memperkirakan akan ada reaksi berantai dari kenaikan harga jagung tersebut. 'Agflasi' alias inflasi yang dipicu peningkatan harga
produk-produk agrikultur bakal menyebar ke berbagai belahan dunia. Kerusuhan masyarakat yang timbul akibat pangan pun menjadi keniscayaan.

"Saya berlutut setiap hari. Jika saya bisa mendatangkan hujan melalui tarian atau doa, saya akan melakukannya," seloroh Menteri Pertanian AS Tom Vilsack.

Keamanan pangan

Lantaran masalah pangan begitu krusial bagi warga dunia, tema keamanan pangan kini menjadi isu sentral dalam agenda internasional. "Kelangkaan pangan sekarang menyaingi minyak. Adapun tanah berharga seperti emas," kata Lester Brown, pendiri lembaga kajian Earth Policy Institute di Washington DC. "Politisi dan warga dunia khawatir mengenai jaminan pasokan pangan dan seberapa tinggi harganya di masa depan," imbuh Brown.

Menurut dia, kekeringan hanyalah satu faktor di balik kenaikan harga pangan. Paling tidak, Brown menjelaskan, ada empat faktor lain yang patut diselisik lebih jauh. Pertama, perubahan iklim. Sekretaris Jenderal Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) Michel Jarraud memperkirakan gelombang panas seperti di AS akan meluas, bertambah parah, dan semakin sering.

"Dampaknya akan merembet ke banyak aspek, terutama pangan, air, kesehatan, dan energi. Karena itu, kita perlu bertolak dari pendekatan yang dilatarbelakangi krisis ke pengembangan kebijakan mengatasi kekeringan yang didasari manajemen risiko," ujar Jarraud.

Mannava VK Sivakumar, selaku direktur prakiraan cuaca WMO, mengatakan saat ini hanya Australia yang memiliki kebijakan nasional untuk mengatasi kekeringan. Kebijakan itu dirancang sebagai cetak biru sehingga kekuatan politik mana pun yang menguasai pemerintah dapat segera beraksi.

Faktor kedua, etanol. Sejak 2005, pemerintah AS mengharuskan semua pemasok bahan bakar minyak untuk menambahkan etanol dari jagung. Langkah tersebut ditempuh guna memperkuat peranan energi terbarukan.

Kini, sekitar 40% dari seluruh panen jagung di AS diubah menjadi etanol.

"Permintaan pangan untuk membuat bahan bakar bio, khususnya di AS dan Uni Eropa, harus dipangkas secara signifikan guna meringankan beban domestik dan pasar global," jelas Shenggen Fan, direktur jenderal International Food Policy Research Institute (IFPRI).

Spekulasi

Faktor berikutnya, spekulasi komoditas pangan. Sejak krisis produk pertanian pada 2008, terdapat sejumlah kenaikan harga yang tidak bisa dijelaskan dengan faktor-faktor konvensional. Harga beras di pasar dunia, misalnya, acap kali meningkat 30% dalam satu hari.

Hal itu boleh jadi disebabkan spekulasi komoditas pangan di pasar keuangan. Para investor, khususnya bank-bank investasi, tidak melakukan transaksi keuangan untuk mendapatkan jagung, kedelai, atau gandum secara fisik. Dengan bursa komoditas berjangka atau futures, mereka hanya menspekulasikan perubahan harga komoditas pangan.

"Kalangan miskin di negara-negara berkembang adalah yang paling parah terkena imbas perubahan harga komoditas pangan. Seperti terjadi pada krisis harga pangan global 2007-2008 lalu, pergerakan harga di pasar domestik dapat memiliki dampak signifikan terhadap pasar global, dan begitu pun sebaliknya," papar Fan.

Guna menghindari spekulasi, pemerintah Prancis pada Juni 2011 sempat mengusulkan regulasi pasar bursa komoditas berjangka dan pembentukan lumbung darurat. Melalui rencana itu, semua negara produsen pangan diharapkan dapat menstabilkan harga pangan sekaligus memerangi spekulasi.

Kebiasaan makan

Faktor terakhir, perubahan kebiasaan makan. Dalam beberapa dekade terakhir, sejumlah negara mengalami pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat sehingga mendorong tumbuhnya kelas menengah baru. Selama dua dekade sejak 1990, pendapatan per kapita China melonjak dari US$341 menjadi US$5.400. Pada periode yang sama, konsumsi daging tahunan di negara tersebut berlipat dari 26 kilogram menjadi 56 kg.

Peningkatan konsumsi daging praktis harus dibarengi dengan peningkatan jumlah ternak dan konsumsi pakan ternak. Padahal, produksi jagung dan kedelai domestik China tidak cukup untuk menutupi lonjakan permintaan. Konsekuensinya, impor menjadi jalan keluar. Jatah kedelai dan jagung untuk manusia pun tergerus.

Lain di China, lain pula dengan di negara maju seperti AS. Menurut kajian organisasi lingkungan nirlaba Natural Resources Defense Council (NRDC), warga AS membuang setengah makanan mereka saban tahun senilai US$165 miliar.

Lebih jauh, laporan itu menyebutkan sebuah keluarga AS yang beranggotakan empat orang secara rata-rata membuang makanan senilai US$2.275 setiap tahun. Jika pembuangan pasokan makanan di AS dikurangi sebanyak 15% saja, laporan NRDC mengklaim jumlah tersebut dapat digunakan untuk memberi makan kepada 25 juta orang setiap tahun.

"Tidak peduli seberapa kuat ketahanan pangan kita, jika makanan dibuang begitu saja, apalah gunanya," cetus Dana Gunders, peneliti NRDC. (Reuters/AP/Der Spiegel/Time/Jer/I-2)

Sumber : Mediaindonesia.com

lppm

Leave a Reply

Close
Bahasa