Menristek Melantik Kepala LIPI Yang Baru

Menristek Melantik Kepala LIPI Yang Baru

Menristek Melantik Kepala LIPI Yang Baru

Bangsa Indonesia secara bertahap harus dapat membangun kemandirian. Kemandirian yang ditopang dengan kemampuan sumberdaya nasional yang bebas dari ketergantungan luar negeri. Ketergantungan pada berbagai produk luar negeri dapat dikurangi dengan penguasaan dan penguatan Iptek. Penguasaan dan penguatan iptek dapat dicapai dengan memposisikan aktivitas penelitian, pengembangan, dan penerapan iptek sebagai unsur utama dalam pembangunan bangsa.

Beberapa keterbatasan dan kendala yang dihadapi dalam penyusunan program-program penelitian, pengembangan, dan penerapan iptek menyangkut berbagai kompleksitas kebutuhan masyarakat di satu pihak dan keterbatasan pendanaan di lain pihak. Oleh karena itu, peran dan kesadaran seluruh lembaga penelitian dan pengembangan khususnya Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia sangat diharapkan dalam memahami dan sekaligus menjalankan program-program.

Sehubungan dengan hal tersebut Menteri Riset dan Teknologi, Suharna Surapranata melantik Lukman Hakim sebagai Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bertempat di Gedung Widya Graha LIPI, Lt. 1, Gatoto Subroto, Jakarta. Lukman Hakim sebelumnya menjabat Wakil Kepala LIPI yang menggantikan Umar Anggara Janie yang memasuki persiapan pensiun.

“Acara pelantikan dan pengambilan sumpah bukanlah sekedar acara seremonial, tetapi dalam hal ini, untuk melaksanakan tugas dan amanah yang dipercayakan dengan tanggung jawab. Harapan, tantangan, dan kepercayaan diletakkan pada puncak saudara Lukman Hakim untuk menghasilkan karya nyata”, Ujar Suharna Surapranata.

Disisi lain juga Menteri Riset dan Teknologi, Suharna Surapranata dalam Pidatonya mengatakan, berdasarkan peringkat daya saing yang diberikan oleh World Economic Forum (WEF), Indonesia menempati posisi ke-54 dari 133 negara pada tahun 2009. Salah satu elemen yang menentukan tingkat daya saing adalah inovasi, dimana Indonesia menempati posisi 40 dari 133 negara. Posisi ini menunjukkan bahwa kemampuan Iptek Nasional belum sepenuhnya memberikan konstribusi pada peningkatan daya saing dalam bentuk Total Factor Productivity (TFP).

Menurut laporan World Economic Forum, terpuruknya daya saing Indonesia disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya adalah lemahnya kebijakan pengembangan teknologi untuk menunjang peningkatan produktifitas. (humasristek)

Sumber : Berita Kegiatan Ristek, 15 Juni 201, LIPI

lppm

Leave a Reply

Close
Bahasa