Klinik Tanaman bersama LPPM IPB Berbagi Tips Tangani Penyakit Sayuran Dan Ikan Di Banyumas

Klinik Tanaman bersama LPPM IPB Berbagi Tips Tangani Penyakit Sayuran Dan Ikan Di Banyumas

Banyumas, Villagerspost.com – Tim Klinik Tanaman Institut Pertanian Bogor menyambangi kawasan Kabupaten Banyumas, tepatnya di Desa Grujukan, Kecamatan Kemranjen, pada Rabu (10/10) lalu. Kunjungan ke Banyumas ini adalah merupakan rangkaian terakhir dari kegiatan Safari Klinik Pertanian Nusantara. Kegiatan dimulai dari pukul 08.30-13.00.

Klinik pertanian diikuti oleh 70 peserta, di antaranya Kepala Desa Grujugan, Camat Kemrajen, Babinsa, Gapoktan, Kelompok Wanita Tani, Penyuluh Pertanian Swadaya,Penyuluh Pertanian Lapangan, POPT, Pemda Banyumas, Peternak dan Petani.

Dalam kesempatan itu, tim Klinik Tanaman melakukan dialog dengan para petani dari berbagai desa yang membawa berbagai keluhan tentang penyakit yang menyerang sayuran mereka dan juga hewan ternak serta ikan. Selanjutnya dilakukan identifikasi dan analisa terhadap sampel tanaman yang dibawa oleh petani. Adapun sampel tanaman yang dibawa oleh petani atau peserta yang hadir diantaranya yaitu melon, terong, cabai, kacang panjang, tomat, durian dan ayam kampung.

“Dengan kegiatan ini, permasalahan pertanian mulai dari air, hama penyakit tanaman serta pengembangan budidaya ikan dan ternak dapat terselesaikan, sehingga petani atau pun peternak dapat memperoleh keuntungan yang sesuai,” kata Camat Kemrajen M Sunartono, SH., dalam sambutannya.

Selain masalah penyakit tanaman, tim Klinik Tanaman IPB juga berbagi ilmu terkait pemeliharaan ternak dan ikan (dok. klinik tanaman ipb)

Kegiatan selanjutnya adalah pemaparan mengenai kesehatan dan pakan ternak oleh pakar peternakan IPB Dr. Ir. Afton Atabany M.Si. Dalam pemaparannya, Afton mengatakan, kebutuhan pakan sapi harus seimbang antara hijauan, jerami, air dan vitamin. “Karena terdapat kandungan yang ada di hijauan tidak dapat ditemukan di jerami, begitu pula sebaliknya terdapat kandungan yang ada di jerami tetapi tidak dapat ditemukan di hijauan. Sehingga kebutuhannya harus seimbang untuk dapat meningkatkan bobot sapi,” ujarnya.

Sesi selanjutnya adalah pemaparan hasil pemeriksaan dan solusi penanganan sampel tanaman bermasalah yang di bawa oleh petani maupun petugas penyuluh lapangan. Permasalahan mengenai penyakit pada tanaman disampaikan oleh staf pengajar Klinik Tanaman IPB Bonjok Istiadji dan Ravi dari tim Klinik Tanaman IPB.

Pada kesempatan pertama, Bonjok memaparkan hasil analisa cepat pada sampel daun tanaman melon yang dibawa seorang petani. Dari pemeriksaan diketahui, tanaman tersebut terinfeksi cendawan Pseudoperonospora cubensis yang merupakan penyebab penyakit downy mildew. “Penyakit ini dapat disebarkan oleh angin dan percikan air serta dapat menginfeksi tanaman lain dari keluarga cucurbitacea,” terang Bonjok.

Penyakit ini membutuhkan kondisi lingkungan yang lembab selama lebih dari 5 jam untuk berkembang dan periode kering yang panjang untuk menyebar. “Kondisi cuaca yang demikian terjadi pada daerah pertanaman melon tersebut, dimana sempat turun hujan deras yang kemudian diikuti oleh cuaca kering selama lebih dari 3 minggu,” paparnya.

Solusi yang ditawarkan atas masalah tersebut di antaranya eradikasi (pemusnahan) bagian tanaman yang terserang, aplikasi pupuk organik cair, dan pengaturan jarak tanam agar lebih renggang. Saran yang sama juga disampaikan untuk pengendalian tanaman tomat yang terinfeksi cendawan Alternaria solani dan kacang panjang yang terinfeksi Cercospora sp.

Kesempatan berikutnya, Bonjok juga melakukan analisa terhadap sampel tanaman terong yang dibawa oleh petani. Tanaman tersebut tampak mengalami layu. Setelah dilakukan pemeriksaan, diketahui tanaman terong tersebut terinfeksi bakteri Ralstonia solanacearum.

“Bakteri tersebut merupakan patogen tular tanah, dapat bertahan hidup di tanah dan mampu menginfeksi tanaman lain dari keluarga cucurbitaceae, musaceae, dan solanaceae. Penanganan penyakit tersebut adalah dengan mencabut tanaman yang bergejala secepatnya dan memusnahkannya pada tempat yang jauh dari pertanaman terong tersebut,” jelasnya.

Solarisasi tanah dapat dilakukan untuk penyehatan tanah yang diduga telah terinfestasi bakteri penyebab layu tersebut. Adapun tahap-tahap yang harus dilakukan untuk melakukan teknik solarisasi tanah yaitu mencampurkan tanah dengan pupuk organik yang telah matang dengan perbandingan 1:10. Selanjutnya campuran tanah dengan pupuk organik tersebut disiram air secukupnya agar lembab.

Setelah itu, tanah tersebut ditutup rapat menggunakan plastik bening selama minimal 3 minggu. Teknik ini diketahui dapat meminimalisir populasi mikroba patogen dan meningkatkan populasi mikroba bermanfaat di dalam tanah.

Dalam pemeriksaan sampel bibit tanaman durian yang dibawa oleh petani, tim Klinik Tanaman juga menemukan tanaman tersebut diduga terinfeksi patogen Phytophthora sp. Patogen ini menginfeksi tanaman yang tumbuh pada tanah yang berat dan kurang bahan organik.

Sehingga solusi yang ditawarkan adalah penyehatan tanah dengan melakukan teknik solarisasi tanah. Sementara pada sampel buah cabai yang dibawa oleh petani terlihat ada serangga didalam jaringan buah. Serangga tersebut merupakan lalat buah pada cabai yang termasuk dalam jenis Bactrocera spp.

Serangga  ini dapat menyerang tanaman cabai pada saat buah masih muda pada saat ingin menjadi pupa, larva akan keluar menuju tanah. Solusi yang ditawarkan ialah sanitasi buah yang terserang lalat buah, pembersihan atau penggemburan tanah disekitar tanaman, dan penggunaan feromon metil eugenol untuk memerangkap lalat buah.

Beberapa petani menanyakan hal yang serupa, yaitu mengenai kesehatan pada ikan. “Ikan saya terserang penyakit seperti cacar, hal tersebut kemungkinan disebabkan karena pengaruh kurangnya air atau dari kualitas air,” tanya seorang petani.

Untuk permasalahan pada perikanan, hal yang terpenting yaitu mengatur makanan ikan dan kondisi air sebaik mungkin. “Ikan akan tumbuh dengan baik ketika makanan yang dibutuhkannya terpenuhi dan juga kualiatas air sesuai dengan habitat ikan,” jelas Prof. Dr. Sugeng Heri Suseno, Wakil Kepala LPPM IPB.

Diskusi mengenai permasalahan ikan merupakan rangkaian acara yang terakhir. Pada kesempatan penutup, Sugeng menyampaikan, dengan adanya kegiatan ini diharapkan dapat menjalin silaturahmi yang bermanfaat lebih dalam memecahkan permasalahan permasalahan yang ada baik dalam bidang pertanian, peternakan maupun perikanan.

“Dengan demikian, usaha-usaha yang akan dilakukan petani dapat berhasil dan memperoleh keuntungan yang lebih baik,” ujarnya.

Sumber Informasi

Unduh Berita

lppm

Leave a Reply

Close
Bahasa