Ketika Musim Buah Tiba

Ketika Musim Buah Tiba

Roedhy Ketika Musim Buah Tiba

Menikmati  mangga, durian, dan manggis sepanjang tahun bukan lagi  impian.  Penelitian Profesor Roedhy Poerwanto (53) dari Institut  Pertanian Bogor  memungkinkan kita memetik buah di negeri kaya buah ini  hampir sepanjang  musim.

Roedhy menggunakan bahan kimia pada  tanaman durian,  mangga, dan manggis. Untuk menginduksi munculnya bunga, tanaman dibuat  stres dengan menuangkan bahan kimia paklogutrasol ke  pangkal batang.  Setelah dua bulan, tanaman disemprot kalium nitrat agar bunga bisa  keluar serentak. Setelah, itu kita tinggal menunggu  datangnya buah.

Penggunaan  bahan kimia yang ditemukan Roedhy  dari hasil penelitian tahun 1994-1995  ini telah diadopsi petani mangga  di Cirebon, Jawa Barat, dan  Probolinggo, Jawa Timur. Seluruh hasil  penelitiannya selalu dilaporkan  ke bagian penelitian dan pengembangan  Kementerian Pertanian. ”Saya juga  menyampaikan langsung ke petani, dan  mereka bebas mengadopsi. Buah lokal  tetap bisa berbuah sepanjang  musim,” katanya.

Roedhy sejak tahun  1985 aktif meneliti buah  lokal. Kemampuannya telah dimanfaatkan oleh  negeri lain. Hasil  penelitiannya tentang produksi buah jeruk (Citrus sp)  )sepanjang tahun, misalnya, telah dikembangkan Koperasi Pertanian di  Jepang.

Penelitiannya tentang teknik produksi rambutan di luar  musim juga telah diminta  Direktorat Jenderal Penyuluhan Pertanian  Thailand untuk bahan  penyuluhan petani di Thailand.

Penelitian  tentang produksi jeruk sepanjang tahun dijalani Roedhy saat ia mendalami  Fisiologi Tanaman di Jepang pada tahun 1985-1987. Ketika itu, ia juga  sudah menjadi dosen  di Fakultas Pertanian IPB. Buah jeruk di Jepang  normalnya berbuah pada  September atau pada musim gugur. Hasil penelitian  Roedhy memungkinkan  jeruk bisa dipanen pada musim panas.

Khusus  untuk rambutan di  Thailand, Roedhy mengembangkan teknik pengaturan  pembungaan dengan  mengupas kulit batang pohon selebar 2 sentimeter.  Kulit batang kemudian ditutup selama dua bulan hingga tiga bulan sebelum  kemudian diberi  kalium nitrat. ”Dua minggu sampai satu bulan kemudian,  rambutan akan  berbuah.”

Sayangnya, teknik yang dikembangkan di  Jepang sulit  diadopsi di Indonesia karena mahal. Sementara teknik yang  dikembangkan  petani Thailand membutuhkan pemeliharaan yang teliti.

Manisnya manggis

Roedhy juga sedang meneliti cara mengatasi getah kuning pada buah manggis   (Garcinia mangostana L). Getah kuning ini menyebabkan manggis terasa   pahit. Akibat getah kuning, eksportir sering kali menolak dan   mengembalikan manggis yang sudah dikirim.

Roedhy juga sedang   berupaya memperpanjang daya simpan manggis. Ia berusaha mempertahankan   agar buah manggis bisa diekspor dalam kondisi segar, berwarna merah, dan   kulit lunak. Dari hasil penelitiannya, Roedhy menemukan bahwa manggis  harus disimpan pada suhu di bawah 12 derajat celsius menggunakan  kemasan  tertentu.

Pada mangga, ia sedang meneliti pengembangan formula  tertentu untuk pencucian agar mangga terbebas dari getah dan  tidak cepat  membusuk. ”Hasil penelitian saya yang terakhir tentang  manggis dan  mangga ini akan saya patenkan,” kata Roedhy.

Profesor di bidang  buah ini juga membina kelompok-kelompok petani buah lewat  Pusat Kajian  Buah Tropika (PKBT) IPB. Ia termasuk salah satu peneliti  yang merintis  lahirnya PKBT yang telah melepas beberapa varietas unggul buah lokal  seperti pisang unti sayang, nanas pasir kuda, dan pepaya  carisya.

Melalui  PKBT, Roedhy turut membina kelompok petani  seperti petani manggis di  Leuwiliang, Bogor. Petani buah, menurut  Roedhy, harus mulai berkelompok  agar bisa maju. Dengan sentuhan  teknologi baru yang dikenalkan PKBT,  ekspor manggis bisa didongkrak  dari sebelumnya kurang dari 5 persen  menjadi lebih dari 10 persen.

Kelompok petani buah menjadi  jawaban karena selama ini tanaman buah hanya  menjadi tanaman pekarangan.  Pohon buah di pekarangan ini sulit  tersentuh teknologi karena skala  kepemilikan yang hanya 1-2 pohon per  petani. Hal ini sangat berbeda  dengan negara lain, seperti Australia,  yang kepemilikan lahan petaninya  minimal 20 hektar.

Salak terbaik

Buah  lokal, menurut Roedhy, memiliki potensi besar untuk dikembangkan. Buah  lokal memiliki nilai gizi yang lebih tinggi karena lebih segar.  
Kandungan vitamin C buah mangga (Mangifera indica L), misalnya, lebih   tinggi 10 kali lipat dibanding apel impor.

Salak dari Sleman, DI  Yogyakarta, bahkan telah dinobatkan sebagai salak terbaik di dunia   karena keunggulan citarasanya. Salak pondoh dari Sleman bisa ditanam di  mana saja tanpa perubahan rasa. Perkebunan nanas di Lampung seluas   40.000 hektar juga telah mencatatkan diri sebagai produsen nanas   terbesar ke-3 di dunia.

Volume perdagangan buah internasional   didominasi buah tropika seperti pisang, nanas, dan mangga.   Ketertinggalan buah lokal—terutama di perdagangan di pasar  
swalayan—disebabkan penampilannya yang kalah menarik. ”Budaya mutu yang  dikembangkan petani adalah rasa. Di konsumen, tidak hanya rasa, tetapi  juga penampilan,” kata Roedhy.

Sistem perdagangan buah di dalam  negeri juga lebih berorientasi volume dan harga, bukan mutu. Buah-buah  lokal diperdagangkan tanpa seleksi mutu di tingkat produsen. Pengiriman   buah bermutu baik dicampur dengan buah kualitas jelek, daun, ranting,  bahkan buah busuk. Sebanyak 40-60 persen buah rusak dan harus dibuang.

Roedhy  berharap pemerintah bisa membangun saluran pasar baru yang sama sekali   berbeda dengan pasar buah saat ini. Pasar harus lebih mengutamakan  mutu  dan hanya memasarkan produk buah bermutu.

Pembangunan kebun baru  berskala luas dengan mengundang investor juga harus segera  dilakukan.  Kebijakan pemerintah, menurut Roedhy, harus berpihak pada  perkembangan  buah jika ingin menyejahterakan petani. Dari hasil  penelitian,  pendapatan petani sayur dan buah lebih tinggi hingga 10  kali lipat  dibandingkan petani padi.

Sumber : Kompas, 15 Desember 2011

lppm

Leave a Reply

Close
Bahasa