Pengembangan Ketahanan Pangan Melalui Pemberdayaan Masyarakat di Kawasan Rawan Konflik Timika Papua

ABSTRAK

Penanganan konflik di Papua selama ini lebih sering dilakukan dengan pendekatan represif. Dampaknya tingkat konflik tidak semakin menurun, bahkan penolakan dunia internasional semakin meningkat. Atas dasar itu dibutuhkan pendekatan yang lebih humanistis, diantaranya melalui pemberdayaan. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji model pemberdayaan masyarakat di kawasan rawan konflik dalam upaya mewujudkan ketahanan pangan serta strategi replikasi model di wilayah lainnya. Metode penelitian dilakukan dengan action research dan analisis SWOT dalam menyusun strategi replikasi model. Model pemberdayaan dilakukan melalui beberapa cara. Pertama, secara bertahap meningkatkan kemampuan bertani lebih produktif dengan introduksi teknologi pertanian sederhana membawa perubahan perilaku komunitas dari ladang berpindah (nomaden) menjadi bertani menetap (sub sistem). Kedua, bertani dalam rangka menyediakan kebutuhan dasar serta sumber pendapatan harian, mingguan, bulanan, maupun tabungan bagi keluarga. Ketiga, upaya pengembangan usaha melalui kemitraan, dengan pemerintah, perusahaan, dan lembaga keagamaan. Simpul kegiatan pemberdayaan dilakukan melalui Agribisnis Training Center (ATC), sebagai unit yang memfasilitasi semua kegiatan pemberdayaan. Hal yang perlu diperhatikan dalam replikasi model pemberdayaan: identifikasi sasaran program, need assesment, inisiasi kelembagaan, pemilihan teknologi, pendampingan terhadap program, dan kemitraan dengan berbagai stakeholder.

Kata kunci: agribisnis, daerah rawan konflik, ketahanan pangan, pemberdayaan masyarakat

ABSTRACT

Conflict handling in Papua so far is more often done with the repressive approach. The impact of conflict level is not decreasing, even international rejection is increasing. For that reason, a more humanistic approach is needed, including through empowerment. The purpose of this research is to study the community empowerment model in conflict-prone areas as an effort to realize the food security and the strategy of model replication in another area. The research method is done by action research, and SWOT analysis to formulate the strategy of model replication. The empowerment model conducted in several ways. First, gradually improve farming skills more productive-with the introduction of simple agricultural technology brings the change of community behavior from nomadic to the subsystem. Second, farming in order to provide for basic needs and also daily, weekly, monthly income as well as savings for families. Third, business development efforts by partnerships, with the government, companies, and religious institutions. The nodes of empowerment activities are conducted through the Agribusiness Training Center (ATC) that facilitates all empowerment activities. There are several things to consider in the replication model of empowerment: identification of program targets, needs assessment, institutional initiation, technology selection, assistance to the program, and partnerships with various stakeholders.

Keywords: agribusiness, community empowerment, conflict prone area, food security

Download Abstrak.

Close
Switch Language