Pengaturan Pola Tanam Karet (Hevea brasiliensis Muell.Arg.) untuk Tumpang Sari Jangka Panjang

ABSTRAK

Rendahnya harga karet menjadi masalah serius bagi petani karet. Sistem tumpang sari berbasis karet dengan tanaman ekonomis lainnya memberikan solusi untuk masalah ini, dan dapat meningkatkan produktivitas secara keseluruhan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaturan tata ruang pola tanam karet yang cocok untuk tumpang sari berbasis karet jangka panjang. Pengkajian dilaksanakan di perkebunan karet rakyat di Kabupaten Tanah Laut, Provinsi Kalimantan Selatan seluas 700 ha dan Kabupaten Musirawas, Provinsi Sumatera Selatan seluas 400 ha. Percobaan menggunakan dua pola tanam klon PB260: (1) Jarak tanam tunggal, ukuran 6 x 3 m; dan (2) Jarak tanam ganda, ukuran (18 + 2 m) x 2,5 m. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan lilit batang karet sistem jarak tunggal (JT) pada tahun sadap pertama sedikit lebih besar daripada sistem JG, namun tidak signifikan. Hasil lateks per pohon sistem JT adalah sama dengan sistem JG, namun hasil lateks per hektar lebih tinggi dari sistem JG karena populasi dari sistem JT lebih dari sistem jarak ganda (JG). Sistem JG terbukti menjadi sistem tanam yang cocok untuk tumpang sari berbasis karet jangka panjang.

Kata kunci: hevea, pengaturan ruang tanam, pola tanam karet, sistem tumpang sari

ABSTRACT

Low prices of rubber have been a serious problem to rubber farmers. The rubber based intercropping system offers a practical solution to this issue and increasing overall productivity. This experiment was aimed to determine the suitable spatial arrangements in rubber planting to facilitate long-term rubber-based intercropping systems. A field experiment was established in a smallholder rubber plantation in the Tanah Laut District, South Kalimantan Province with an area of 700 ha and Musirawas District, South Sumatra Province with an area of 400 ha. The experiment using two planting patterns of rubber clone PB260: (1) single row planting pattern (SR) by 6 x 3 m, and (2) double row planting pattern (DR) by (18 + 2 m) x 2.5 m. The experiment showed that the girth of rubber trees in the SR system at the first tapping year was slightly bigger than that in the DR system,  however, it was not statistically significant. The latex yield per tree of SR system was the same as the DR system, however latex yield per hectare of SR system has higher than the DR system, because the SR system have more population than the DR system. The DR system was proved to be a suitable planting system for long-term rubber based intercropping systems.

 Keywords: hevea, intercropping system, rubber planting pattern, spatial arrangement

Download Abstrak.

Close
Bahasa