Infus Dieng Mengundang Bencana

Infus Dieng Mengundang Bencana

 

Infus Dieng Mengundang Bencana

Lahan kritis di Kawasan Pengunungan Dieng, Jawa Tengah (Antara/Anis Efizudin)Sejumlah permasalahan yang membelit kawasan Dieng, Jawa Tengah. Persoalan itu saling bertaut seperti benang kusut. Silang-sengkarut itu dimulai dari tingkat erosi yang tinggi karena petani kentang. Lalu sedimentasi yang akut, penggunaan pupuk dan pestisida berlebihan, juga adanya gap antara konsep dengan kenyataan di lapangan.

Ujung dari simpul-simpul persoalan itu bermuara pada persoalan ekonomi. Itulah pemetaan persolan lingkungan di Dieng menurut Bramasto Nugroho, dosen Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor. Berdasarkan wilayah, dia juga membagi permasalahan lingkungan di kawasan pertanian di luar dan di dalam hutan negara, dan telaga-telaga.

"Kepemilikan tanah sebagai ujung persoalan. Ini adalah akar masalahnya," kata Bramasto. Sekitar 60%-70% petani Dieng adalah menggarap lahan pribadi yang otonom dalam mengambil keputusan. Mereka mengambil keputusan berdasarkan perhitungan jangka pendek dan tak memperhitungkan dampak negatifnya. "Eksternalitas negatif tidak pernah diperhitungkan," katanya.

Ketika kentang merupakan tanaman yang menguntungkan, mereka ramai-ramai menanam kentang. Padahal, tanaman tersebut tidak sanggup menahan erosi. Sehingga jika ditanam pada kemiringan yang tinggi, sangat berbahaya. Di samping rawan longsor, erosi yang menghanyutkan humus menjadi cukup tinggi.

Para petani lalai terhadap kemungkinan bencana itu karena tergiur keuntungan. Maka, mereka mengeksploitasi lahan-lahan pribadi untuk kentang. Padahal kemiringannya sangat tinggi. "Sehingga, kalau mencangkul itu tidak menunduk, tetapi berdiri. Karena tanahnya sudah miring," Bramasto menegaskan.

Berdasarkan laporan pemerintah daerah setempat, sekitar 7.000 hektare lahan di kawasan Dieng sudah rusak. "Kalau musim penghujan, risiko longsor sangat tinggi," kata Bramasto pula. Eksternalitas negatif semacam itu merugikan orang lain, dan pada akhirnya merugikan diri sendiri.

Karena eksploitasi yang tinggi, sekarang di kawasan Dieng itu memiliki tingkat erosi yang tinggi. Laporan dari Tim Kerja Pemulihan Dieng (TKPD) menyebutkan, kerusakan di kawasan itu sudah mencapai 160 ton per hektare per tahun. Tanah yang digendong air akhirnya mengendap di Daerah Aliran Sungai (DAS) Serayu, yang akhirnya mengganggu Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Mrican.

Pengelola PLTA sudah mengeluarkan uang sebesar Rp 200 milyar per tahun hanya untuk mengeruknya. Biaya gede itu karena sedimantasi yang tinggi. Diperkirakan, 12-15 tahun kemudian PLTA itu tak bisa lagi diselamatkan. Padahal PLTA Mrican menghasilkan 167-187 megawatt listrik untuk suplai Jawa-Bali.

Padahal, DAS Serayu sangat vital dan penting untuk dilestarikan karena fungsinya sebagai PLTA. DAS Serayu juga menjadi pengendali banjir daerah Banjarnegara dan Cilacap. Jika sedimentasi akut tak teratasi, berpotensi menimbulkan banjir.

Di samping menggarap ladang miring dengan kentang, mereka juga mengambil air dari telaga dengan cara menggunakan selang seperti menginfus orang sakit. "Kawasan Dieng itu sudah sakit karena infusnya berseliweran," kata Bramasto. Meskipun kawasan telaga tersebut dikelola Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), namun kini sudah tidak efektif lagi. "Siapapun bisa menyerap air tanpa memikirkan apa yang akan terjadi setelahnya," Bramastyo Nugroho menegaskan.

Hal senada juga diungkapkan Yul Harry Bahar, Direktur Budi Daya Tanaman Sayuran dan Biofarmaka, Dirjen Hortikultura Departemen Pertanian. Ia menyatakan, kerusakan kawasan Dieng karena kultur masyarakat yang terbiasa menanam kentang pada lahan yang terlalu tinggi dan kemiringan yang tinggi. Padahal, ada peraturan yang melarang menanam tanaman tersebut pada kemiringan lebih dari 35 derajat. Agar aman, daerah tersebut hanya cocok untuk tanaman keras seperti buah-buahan.

Menurut Yul, untuk memulihkan kondisi Dieng memerlukan sinergi kongkret dari berbagai pihak. Dirjen hortikultura sejauh ini hanya bisa menyarankan agar penduduk yang tinggal di daerah dataran tinggi untuk menanam tanaman budidaya hortikultura berjenis keras.

Yul mengatakan sudah memiliki program pengembangan DAS dengan menanam tanaman keras seperti nangka dan manggis. Selain itu, kini Dirjen Hortikultura juga tengah mengembangkan tanaman kentang dataran medium dengan ketinggian antara 600 sampai 900 meter di atas permukaan laut.

Daerah yang sudah berhasil megembangkan kentang jenis ini adalah Sleman dan Tegal. "Hasilnya, saya lihat bagus," kata Yul. Dengan menanam kentang di dataran medium, maka kerusakan pada lingkungan dapat diminimalkan. Terkait dengan usaha menyukseskan Tim Kerja Pemulihan Kawasan Dieng (TPKD), Yul mengaku sudah menggandeng Pemda Jawa Tengah.

"Kami sudah menyiapkan dana pengembangan konservasi DAS, budi daya kentang dataran medium, dan penyuluhan," ujar Yul. Penyuluhan yang terakhir dilaksanakan di Wonosobo, mengangkat tema cara menanam tanaman kentang yang ramah lingkungan. Yul memprediksi, kawasan Dieng bisa pulih dalam jangka waktu lima tahun.

Agus Affianto, dosen Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, yang tergabung dalam TKPD menjelaskan, kentang tidak tahan air. Jadi, cepat busuk. Untuk menghindari hal itu, petani membuat saluran pembuangan air yang tegak lurus dengan kontur setempat. "Supaya air bisa cepat dibuang," katanya.

Ketika hujan, tingkat erosi sangat tinggi. Dia mencontohkan daerah waduk Sudirman yang erosinya mencapai 4 juta ton per tahun. Mulanya, air di sana bisa dipakai hingga 50 tahun. "Tapi kini hanya 15 tahun, terhitung sejak 2007," kata Agus Affianto.

Ia menyebutkan, kini lapisan tanah kawasan Dieng tinggal 30 sentimeter dari batuan induk. Tingkat erosinya 1 sentimeter per tahun. "Jadi, 30 tahun lagi (tanah mengelupas) jadi batuan induk," katanya. Inilah yang disebut desertifikasi atau penggurunan. "Paling parah di Wonosobo dan Banjarnegara," katanya. Padahal dalam proses pembentukan tanah, dari batuan induk menjadi tanah tiap sentimeternya butuh waktu 100 tahun.

Yang menjadi masalah, dan perlu dicari solusinya, adalah kecenderungan penduduk sekitar untuk menjadikan tanaman kentang sebagai komoditas utama pertanian. "Harus dicari komoditas pengganti kentang yang nilai ekonominya tinggi," kata Agus. Namun, sejauh ini tidak ketemu alternatif komoditas yang nilai ekonominya setidaknya sama dengan nilai ekonomi kentang.

Agus mencontohkan, di daerah Sembungan, Wonosobo, perputaran duit kentang mencapai Rp 400 juta per hari. "Dari tiga kali panen setahun, jika dua panennya gagal, (ruginya) bisa ditutup oleh (untung) satu kali panen," katanya.

Untuk memangkas erosi, selain menanam rumput-rumputan di sela lahan kentang yang terasering, juga tanaman alternatif seperti bambu cendani dan makademia (polong-polongan). Juga ada porgram insentif, di mana petani yang melakukan upaya-upaya itu bakal dapat kambing. Niatnya, bisa jadi awal untuk mebuat pertanian terpadu.

Pembentukan 10 desa model itu memerlukan biaya Rp 2 milyar per tahun. Menurutnya, dengan upaya itu, sedimentasi menurun dari 1 cm kini menjadi 0,7 cm per tahun. Tingkat erosinya juga turun sebanyak 60%.

Sumber : Rohmat Haryadi, Sandika Prihatnala, Syamsul Hidayat, dan Arief Koeshernawan (Yogyakarta); http://www.gatra.com/

lppm

Leave a Reply

Close
Bahasa