DisnakWaspadai Penyebaran Antraks

DisnakWaspadai Penyebaran Antraks

Disnak Waspadai Penyebaran Antraks

http://www.scientistlive.com/media/images/012508_anthrax_new.jpg

 

Dinas Peternakan (Disnak) Jabar mewaspadai daerah endemis penyakit antraks agar tidak timbul penyakit tersebut,dan jika pun ada diharapkan tidak menyebar.
Kepala Disnak Jabar Koesmayadie Tatang Padmadinata mengatakan, pihaknya terus memonitor empat daerah yang dikenal sebagai daerah endemis antraks. Keempatnya yakni Kabupaten Bogor, Subang, Purwakarta dan Kota Depok. “Daerah tersebut memang daerah endemis antraks. Sejak 2003 lalu sering terungkap bahwa ternak di empat daerah itu mengidap antraks.

Karena itu, kami akan terus mengawasi dan memonitor empat kawasan itu. Jika ditemukan kasus antraks di Jabar, kemungkinan berasal dari empat daerah tersebut,” ujar Koesmayadie yang ditemui seusai bersilahturahmi dengan Muspida Jabar di Gedung Sate,Jalan diponegoro 20, Kota Bandung,kemarin.

Koesmayadie menambahkan, penyakit yang berasal dari bakteri bacillus anthracis ini sulit untuk dikendalikan dan diberantas. Spora penyebab antraks, masih dapat tumbuh meski sudah 60 tahun terkubur. “Untuk antisipasi penyebaran, kami terus melakukan vaksinasi kepada seluruh hewan ternak yang ada.

Selain itu, kami juga melakukan pengecekan kesehatan hewan dengan dibantu mahasiswa peternakan dan kedokteran hewan dari IPB (Institut Pertanian Bogor),” bebernya. Koesmayadie mengatakan,Disnak juga akan mengawasi masuknya hewan ternak ke Jabar.Menurutnya, ada dua lokasi checkpoint untuk memeriksa kesehatan hewan yang masuk ke Jabar, yakni di Losari, Kabupaten Cirebon, dan Kota Banjar.

“Lalu lintas hewan akan kami awasi juga. Nantinya hewan yang masuk ke Jabar, baik dari daerah lain maupun luar negeri harus memiliki tanda bahwa hewan tersebut bebas penyakit. Tanda akan diberikan setelah melalui proses pemeriksaan kesehatan hewan,” papar Koesmayadie.

Dia menambahkan, selain antraks, pihaknya juga mewaspadai penyakit hewan ternak lain,seperti halnya penyakit mulut dan kuku,meski di provinsi ini belum ditemukan penyakit-penyakit tersebut. “Antraks pernah terjadi,tapi kuku dan mulut belum. Kami akan terus mewaspadai lalu lintas hewan,terlebih saat ini menjelang Idul Adha yang akan melibatkan banyak hewan ternak,”ucap Koesmayadie lagi.

Untuk Idul Adha,Koesmayadi menandaskan, kebutuhun hewan ternak diprediksi mencapai 10% dari angka normal.Idul Adha tahun lalu kebutuhan hewan ternak besar di Jabar mencapai 85.000 ekor, dan hewan kecil sebanyak 400.000 ekor.“Untuk menutupi kekurangan, biasanya kami datangkan ternak dari Jateng dan Jatim,” tandas Koesmayadie. (krisiandi sacawisastra)

 
Sumber :  http://www.seputar-indonesia.com
Photo : http://www.scientistlive.com/media/images/012508_anthrax_new.jpg

lppm

Leave a Reply

Close
Bahasa