Bogor Berpotensi Jadi Kota Serangga

Bogor Berpotensi Jadi Kota Serangga

ipbBogor Berpotensi Jadi Kota Serangga

BOGOR - Setelah Kota Sejuta Angkot, bisa jadi Kota Bogor memiliki sebutan Kota Serangga, jika warga tidak mewaspadainya. Pasalnya, jumlah populasi serangga setiap tahun semakin meningkat. Berdasarkan data Perhimpunan Entomologi Indonesia (PEI) Cabang Bogor, populasi serangga merugikan dari berbagai jenis meningkat drastis enam bulan pertama tahun ini. Jika pada Januari berjumlah 23.271 ekor, empat bulan kemudian yaitu Mei meningkat menjadi 43.221 ekor.

Fakta itu, terungkap dalam seminar nasional yang diselenggarakan PEI di Kampus Penelitian Pertanian Cimanggu. “Serangga ada dua yaitu menguntungkan dan merugikan pertanian serta manusia, jenis kedua inilah yang harus kita tekan laju perkembangbiakannya,” ujar Ketua PEI Cabang Bogor Pudjianto kepada Radar Bogor, Kamis (24/6).

Staf Departemen Deteksi Tanaman Fakultas Pertanian IPB ini menuturkan, Kota Bogor berpotensi besar menjadi sarang bagi serangga dari berbagai jenis. Itu karena kondisi Kota Bogor yang mendukung tingkat perkembangbiakan serangga merugikan dari berbagai jenis. “Keadaan Bogor yang menguntungkan bagi populasi serangga ini akan berimbas pada meledaknya populasi serangga dua tahun ke depan, dikhawatirkan seluruh kota akan dipenuhi kawanan serangga,” terangnya.

Beberapa kondisi yang mendukung perkembangan serangga di Kota Bogor adalah meningkatnya suhu udara, tingkat curah hujan yang tinggi dan belum adanya usaha dalam menekan laju perkembangbiakan serangga.

“Alasan inilah yang membuat kami mengadakan seminar nasional setiap tahun,” kata Pudjianto.

Dalam seminar yang dihadiri sekitar 150 undangan dari berbagai instansi pendidikan, mulai dari perguruan tinggi hingga pengusaha swasta yang berkecimpung dalam pemberantasan serangga merugikan itu, hadir dari Departemen Pertanian Yuliah, Prof Dr Agus Kardinan dari Pusat Kajian Penelitian Serangga Indonesia dan Prof Dr Supratman Sukowati dari National Institute of Health Research and Development (NIHRD) Indonesia.

Prof Dr Supratman mengatakan, tingkat populasi serangga merugikan dapat ditekan dengan berbagai cara. Salah satu cara terbaik yang dapat diaplikasikan terutama di wilayah pertanian seperti sawah dan perkebunan adalah melalui penyemprotan pestisida dan insektisida ramah lingkungan. Dua obat pembasmi serangga alami itulah, yang saat ini sedang dikembangkan para peneliti serangga di seluruh Indonesia. “Peneliti-peneliti saat ini mulai malas, jadi kita sebagai senior harus bisa menggerakkan peneliti muda untuk bisa lebih kritis menanggapi polemik lingkungan,” tandasnya. (yus)

 
Sumber : Radar Bogor

lppm

Leave a Reply

Close
Bahasa