Biopori : Teknologi Tepat Guna

Biopori : Teknologi Tepat Guna


bioporiBiopori : Teknologi Tepat Guna

Banjir merupakan fenomena yang selalu menghantui warga Jakarta dan juga hampir seluruh daerah di Indonesia yang mengalaminya. Banyak hal sebenarnya yang bisa dilakukan untuk mencegah datangnya air bah ini. Yang jelas kesadaran manusia sendiri sangat diperlukan untuk ini.

Salah satu cara untuk mencegah datangnya banjir atau paling tidak menguranginya adalah dengan membuat Lubang resapan Biopori. Peneliti Institut Pertanian Bogor (IPB), Ir. Kamir R. Brata, M.Sc, Lektor Kepala Ekologi Tanah, yang juga staf Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian IPB berhasil mengembangkan Teknologi Biopori yang sebenarnya sangat sederhana yaitu “ Lubang Serapan Biopori” untuk mencegah banjir dan kekeringan.

 

Saat liputan Iptek TTG (Teknologi Tepat Guna) yang merupakan rangkaian program Iptek Talk Kementerian Negara Riset dan Teknologi untuk promosi hasil-hasil riptek dari para peneliti di LPND Ristek maupun dari Litbang Departemen dan Litbang Universitas yang dapat digunakan oleh masyarakat luas, Kamir Brata menjelaskan Lubang Resapan Biopori adalah suatu teknologi yang memanfaatkan sampah organik untuk menghidupkan mahkluk kecil dalam tanah yang berguna sebagai penghasil sumber air baru untuk mempertahankan kelembaban tanah.

Menurut Kamir, lubang-lubang kecil bisa dibuat oleh siapapun. Kenapa disebut Biopori, sebab lubang yang dibuat itu diisi dengan bahan organik. Jadi tidak ada pencemaran, karena bahan organik semuanya akan larut dan hilang, dan di dalam lubang itu terdapat celah-celah cabang. Dengan teknologi ini, kita membuat tempat makhluk hidup untuk penyerapan air, dengan memanfaatkan apa yang harus kita buang. Yang terpenting adalah merubah paradigma masyarakat untuk tidak lagi membuang air hujan yang jatuh di rumah mereka ke dalam saluran pembuangan tapi mulai meresapkannya ke dalam tanah di lahan yang mereka punya. Ada manfaat lain lubang resapan biopori, a.l. selain mencegah banjir, lubang ini juga bisa dimanfaatkan sebagai tempat sampah organik. Pemanfaatan sampah organik, dapat menghidupkan mahkluk kecil dalam tanah yang berguna sebagai penghasil sumber air baru untuk mempertahankan kelembaban tanah.Tentu saja menjadi ramah lingkungan, karena tidak perlu membakar sampah yang sebenarnya bisa menjadi salah satu penyebab polusi udara.

 

Bagaimana cara membuat lubang resapan biopori ini?. Caranya sangat mudah, persiapkan alat yang diperlukan yaitu bor biopori, seember air, cangkul, kayu yang ujungnya tumpul dan tentu saja kumpulan sampah organic. Untuk awalnya buatlah jalur dahulu dengan cangkul, kemudian siram air di lahan yang akan dibor, setelah itu mulailah mengebor tanah dengan diameter 10 centimeter dan kedalaman 1 meter. Tanah yang terdapat di ujung bor bisa dibersihkan dengan kayu tumpulnya. Setelah lubang siap, masukkan sekitar 2 atau 3 kg sampah lapuk/organik ke dalamnya, kemudian tutup dengan kawat jaring agar tidak terperosok apabila terinjak. Teknologi ini menurut Kamir, bisa diterapkan di selokan yang seluruhnya tertutup semen ataupun di halaman rumah. Lubang Biopori dapat dibuat lebih dari satu dengan jarak sekitar 2 meter dengan biopori lainnya. Air hujan akan dengan mudah terserap ke dalam lubang biopori, sehingga tidak sempat tergenang yang dapat mengakibatkan banjir.

 

Biaya pembuatan lubang resapan biopori ini sangat murah, tetapi efektivitasnya lebih besar. Cukup dengan biaya sekitar Rp 100.000 – Rp 200.000,- untuk membeli bor tanah manual yang dapat dipesan di Institut Pertanian Bogor. Bor tanah ini dapat dipakai oleh puluhan orang dalam waktu yang lama, dan dapat dipakai untuk membuat lubang tambahan. Dengan lubang kecil ini air akan menyerap lebih cepat ke dalam tanah, sehingga dapat mencegah banjir dan menjadikan cadangan air tanah apabila musim kemarau. Yang harus diingat teknologi lubang resapan biopori ini merupakan karya anak bangsa yang patut dihargai. Sudah sewajarnya pemerintah dan juga masyarakat Indonesia bangga dan mendukungnya. Karena memang manfaat dari lubang resapan biopori ini sudah terbukti secara empiris.

 

Sebagai seorang ahli yang mengetahui sistem ekologi tanah, Kamir menuturkan ekosistem antara makhluk hidup yang berada di dalam tanah dan makhluk yang tidak hidup saling ketergantungan, maka kita perlu mengupayakan agar ekosistem tanah tetap utuh dan tidak rusak demi kelangsungan kedua jenis makhluk yang ada di dalamnya. Sampah yang dibuang, lama kelamaan semakin banyak dan akan menjadi beban bagi lingkungan dan bagi manusia, karena tempat tinggalnya harus dipakai untuk membuang sampah. Banyak orang yang membuang air dan sampah ke sungai ataupun saluran air, itupun akan menimbulkan dampak baru yakni meluapnya air sungai.

 

Kamir menegaskan, dengan teknologi ini semua orang dapat memanfaatkan air yang sangat dibutuhkan oleh kehidupan di mana saja dan kapan saja. Karena curah hujan ini tidak hanya jatuh di kawasan situ saja, sehingga yang paling gampang agar tidak membebani lingkungan, semua orang harus membuat peresapan itu dengan baik. Oleh karena itu yang paling dibutuhkan dalam penerapan teknologi ini adalah kesadaram untuk tidak membuang sampah, karena sampah itu adalah sumber daya, apapun jenis sampahnya. Sampah yang tidak lapuk bisa dimanfaatkan oleh pemulung menjadi bahan industri. Karena itu ubahlah kebiasaan kita, agar selalu memisahkan sampah organik dan non organik. Serta jangan selalu membuang sampah di tempat penampungan, selain menimbulkan bau, sarang lalat, dan tikus, juga dapat merusak lingkungan. Apalagi jika diendapkan di tempat pembuangan akhir sampah, lapuknya akan lama dan dapat menghasilkan zat metana yang bisa meledak apabila tidak disalurkan.(gs.iy.b.adpkipt)

 

Sumber :  http://www.ristek.go.id/

 

 

lppm

Leave a Reply

Close
Bahasa